Penyesalan menjadi Sukacita
Bacaan : Neh. 8:1-13 dan 19
Entah bagaimana Rafael, anak kami, berkolaborasi dengan Xian mengubah nomor kunci pembuka tas miliknya (Xian). Saya dan istri menanyakan kronologi kejadian itu kepada Rafael dan minta dia menjelaskan via telepon kepada ibu Xian nomor baru pembuka tas. Dari cerita, tidak diketahui siapa di antara dua anak ini yang telah mengubah nomor dan tidak satu pun yang mengingat perubahannya. Merasa tidak enak, kami pergi ke rumah Xian. Di jalan kami menasihati Rafael untuk tidak perlu ikut campur bila tidak dimintai tolong, maklumlah dia baru kelas 1 SD. Sepanjang jalan, ia menangis dan berulang-ulang mengatakan “menyesal, tidak akan berbuat lagi, merepotkan papa mama, dlsb.”
Menyesal sering datang terlambat, namun masih ada kesempatan untuk mengubahnya bila disikapi dengan tepat. Sekembalinya ke Yerusalem, rakyat buangan meminta Ezra membacakan Taurat Musa (ay. 2). Read more…
Categories: Renungan Harian Tags: berdukacita, berkat, penyesalan, sukacita
Kumau yang Kutahu
Bacaan : Yak.2 :18-22
Mat.22:37-40
“ Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” (Yak.2:18)
Kita sudah mengetahui apa yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan. Setelah kita mengetahuinya apakah kita mau melakukan yang sudah kita tahu? Kumau yang kutahu berbicara tentang apakah kita mau melakukan apa yang sudah kita ketahui? Apa saja yang sudah kita ketahui? Kita sudah banyak mengetahui apa saja yang diajarkan oleh Yesus kepada manusia melalui firmanNya.
Hukum yang terutama dan pertama dikatakan, “ Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu.” Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: “Kasihilah sesama mu manusia seperti dirimu sendiri”. Hukum Kasih tersebut menjadi hal yang paling mendasar di dalam kekristenan. Read more…
Categories: Renungan Harian Tags: iman, iman tanpa perbuatan, pelaku firman, perbuatan
Kasih Tak Bersyarat
Yoh.3:16 , ” Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini , sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Kasih Allah di atas menggunakan kata yunani agapao atau agape, yaitu kasih dengan tingkatan tertinggi dimana kasih ini adalah kasih yang tak bersyarat,kasih sejati dan kasih yang dimiliki oleh Allah sendiri. Karena begitu besarnya kasih Allah inilah maka Dia memberikan anakNya yang tunggal kepada manusia yang sebenarnya tidak berhak menerima agar manusia beroleh penggharapan akan hidup yang kekal. Melalui pengorbanan ini, Allah mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita mengasihi.
Manusia umumnya mengasihi sesamanya dengan kasih yang ada syaratnya. Kita baru mengasihi jikalau ada untungnya, Kita baru mengasihi asalkan dia lebih dulu mengasihi kita, Kita baru mengasihi kalau tidak merugikan diri kita. Read more…
Categories: Renungan Harian Tags: agape, kasih Allah, kasih tak bersyarat
Sekali Lagi tentang Uang
Bacaan : 1 Ti 6:10; Lukas 16:10-11; ( Ams.17:16)
Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada mulanya, Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri mencari buah-buahan untuk dimakan. Apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan selanjutnya untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Maka muncullah sistem ‘barter ‘yaitu barang yang ditukar dengan barang.
Namun banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Kemudian muncullah apa yang dinamakan dengan uang logam. Logam dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama dan tidak mudah rusak, dan mudah dipindah-pindahkan. Read more…
Categories: Renungan Harian Tags: alat penukar, hamba, tuan, uang
Carpe Diem
Bacaan : Ef.5:16; Kol.4:5-6
“…sapias, via liques et spatio brevi spem longam reseces.dum loquimur, fugerit invida aetas : carpe diem, quam minimum credula postero.”
“…be wise, strain the wine, and scale back your long hopes to a short period. While we speak, envious time will have {already} fled Seize the day, trusting as little as possible in the next.”
Carpe diem adalah sebuah ungkapan dari sebuah puisi Latin yang ditulis oleh penyair Romawi terkenal yang hidup sekitar abad 65 SM yang bernama Quintus Horatius Flaccus dan lebih dikenal dengan nama Horace. Carpe berarti “memilih, memetik, mencabut, mengumpulkan”. Tapi Horace menggunakan kata tersebut dengan arti “menikmati, memanfaatkan”.
Frase tersebut adalah bagian dari kalimat yang berbunyi “… Carpe diem, quam minimum credula postero..” – “Nikmatilah hari ini, percayalah sesedikit mungkin akan masa depan..”
Kata ini diangkat lagi di dalam film Dead Poets Society (1989)yang dibintangi oleh Robin Williams dengan menyampaikan kalimat “”Carpe diem. Seize the day, boys. Make your lives extraordinary.”
Horace seolah-olah mengatakan untuk hiduplah hari ini seakan-akan tidak ada lagi hari esok. Jadi nikmatilah hari ini! Apa yang dilakukan hari ini buatlah seistimewa mungkin, karena belum tentu ada lagi hari esok. Hargailah hari ini.
Categories: Renungan Harian Tags: carpe diem, gunakanlah waktu yang ada, hari esok




