This is your promo text. Link to something new and exciting, like a revolutionary WordPress theme!

Bukan Sekadar Nyanyian

Bacaan Yakobus 3: 13 – 4:3,7-8a

naynayian persekutuan

Bukan Sekedar Nyanyian

Suatu kali ada seorang ibu bertengkar dengan ibu lain di sebuah pasar. Lalu seorang satpam mencoba melerai pertengkaran tersebut dengan berkata: “Bu, jangan bertengkar di sini. Kalau ribut jangan di pasar”. Rupanya salah satu ibu tersebut bertambah sewot dan langsung menjawab perkataan satpam: “Kalau tidak boleh ribut di pasar, emangnya harus di mana?” Pak Satpam  menjawab dengan kalem: “Kalau mau ribut lebih baik di GEREJA!”

Dari cerita tadi, paling tidak ada 3 hal yang kita dapati:

  1. Sudah menjadi hal yang biasa dipandang oleh orang-orang bahwa di gereja itu pasti ada keributan, jadi jangan heran! Gereja justru bukan tempat yang tentram, damai dan sebagainya.
  2. Di gereja banyak orang yang “nganggur” (tidak seperti di pasar: orang sedang sibuk bekerja mencari uang) sehingga orang di gereja justru “sibuk” bicara!!! (gossip…) yang  ujung-ujungnya bertengkar.
  3. Di gereja itu orang berlomba untuk kepentingan diri sendiri: cari nama, cari pujian, cari hormat dll sehingga di gereja EGO / kepentingan diri sendiri yang membuat hal-hal kecil menjadi besar, dan hal besar menjadi semakin parah, bisa buat gereja pecah. (tidak seperti di pasar, di mana pedangang dan pembeli sama-sama cari untung sehingga punya filosofi “cin-cai” = hal sepele jangan dibesar-besarkan”)

Kekristenan dikenal sebagai “The Singing Religion” – agama yang senantiasa bernyanyi- : kelahiran, HUT, pernikahan, kematian dsb. Lagu-lagu yang dinyanyikan adalah gambaran dari apa yang dialami oleh orang-percaya. Sewaktu senang: orang Percaya menyatakan sukacitanya kepada Tuhan melalui nyanyian, sewaktu susah menyatakan pengharapannya kepada Tuhan. Gambaran persekutuan antara orang Percaya dengan Tuhannya dinyatakan melalui pujian, begitu pula gambaran persekutuan antara orang Percaya dengan orang Percaya lainnya dilukiskan melalui pujian.

Ironisnya justru kekristenan mengalami kondisi yang tidak seperti lagu-lau yang dinyanyikan: waktu menyanyikan tentang kasih persaudaraan justru yang terjadi gontok-gontokan antara saurada seiman. Kemunduran atau degradasi nilai persekutuan terjadi di gereja. Jika kita baca Kitab Kisah Para Rasul (pasal 2 & 4) tentang cara hidup jemaat mula-mula maka kita menemukan persekutuan yang indah antara orang Percaya, baik yang kaya dan yang miskin, mereka saling menerima, saling menolong.

Kitab Yakobus justru menceritakan pertengkaran yang terjadi antara orang Kristen mula-mula. Pertengkaran yang timbul antara golongan yang miskin dengan golongan yang kaya. Ada 2 penyebab yg mengakibatkan pertengkaran:

  1. Iri hati
  2. Mementingkan diri sendiri (Pasal 3:14).

Kedua penyebab ini bisa ada dalam diri siapapun, bukan saja pada jemaat yang Yakobus maksud tapi juga kepada kita jemaat yang sedang membaca Kitab ini.

Iri hati adalah perkara hati yang tidak senang terhadap orang lain. Tidak senang jika orang lain bahagia, jika orang lain beruntung, jika orang lain berhasil. Ketidak senangan tersebut dapat dilihat dari perbuatan yang nyata melalui dosa lidah  (pasal 3:1-12). Sewaktu orang lain berhasil dalam usahanya maka ia mencoba menanamkan berita bahwa keberhasilannya karena dengan cara-cara yang tidak benar…

Raja Daud pernah menulis Mazmur 73 tentang pengalaman dan perasaan yang cemburu terhadap kemujuran orang fasik. Rasa iri hati atau cemburu tersebut bahkan hampir membuat ia tergelincir atau terpeleset. Suatu ungkapan keperihatinan yang terjadi atas dirinya yang iri hati sehingga hampir ia mencoba dengan cara-cara yang tidak benar (mungkin konteks kitab Yakobus bisa saja jatuh dalam dosa lidah).

Daud mengajarkan bahwa orang Percaya jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang (Maz.37:1), karena itu Daud mengajarkan agar “Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik” (Maz 73:3). Hal yang sama juga diajarkan oleh Yakobus agar orang Percaya jangan iri hati tetapi justu diajar untuk berdoa (Yak 4:2). Langkah berdoa adalah langkah iman, mempercayakan kepada Allah untuk setiap pergumulan yang sedang kita hadapi sehingga cara ini menolong kita untuk tidak iri hati kepada orang lain. Belajar mempercayai Tuhan yang akan memelihara hidup kita sehingga ada kekuatan untuk menghadapi semua tantangan dalam hidup ini. (bisa beri contoh kesaksian hidup: Tuhan berikan burung gagak).

Mementingkan diri sendiri adalah karakter egois yang tidak mau peduli dengan kesulitan orang lain (Yak.2:16). Hal ini terjadi karena kita tidak mau merasa diganggu. Kita senang dengan zona aman atau area nyaman dalam hidup kita. Pdt. Buby Ticualu memberikan gambaran kepedulian sebagai lawan dari mementingkan diri sendiri dari  Lukas 10:25-37 tentang Orang Samaria yang Baik Hati. Yesus menjelaskan bahwa orang Samaria ini mau diganggu, ia diganggu waktunya (ia harus memberikan waktunya untuk menolong orang lain), ia diganggu bisnisnya (bisnisnya terhenti sementara untuk menolong orang lain), ia diganggu uangnya (sekarang ia harus mengeluarkan biaya untuk menolong orang lain).

Yakobus mengajarkan bahwa hikmat yang dari atas salah satunya adalah penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik. Orang Percaya dipanggil untuk menyatakan belas kasihanya kepada sesama yang membutuhkan.

Persekutuan orang Percaya bukan sekedar nyanyian di bibir (lip service) tapi harus merupakan pernyataan iman kepada Allah serta bukti kasih terhadap sesama. (SMK)

0 comments… add one

Leave a Comment

Previous Post: