This is your promo text. Link to something new and exciting, like a revolutionary WordPress theme!

Sekali Lagi tentang Uang

Bacaan : 1 Ti 6:10; Lukas 16:10-11; ( Ams.17:16)

uang logam-uang kertas

Uang, Hamba atau Tuan?

Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada mulanya, Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri mencari buah-buahan untuk dimakan. Apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan selanjutnya untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Maka muncullah sistem ‘barter ‘yaitu barang yang ditukar dengan barang.

Namun banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Kemudian muncullah apa yang dinamakan dengan uang logam. Logam dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama dan tidak mudah rusak, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam yang dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kertas seperti yang kita kenal sekarang ini.

Namun sayangnya uang yang bentuk fisiknya kecil ini bisa menjadi masalah besar bagi banyak orang. Bahkan si kecil ini bisa mengendalikan kehidupan seseorang.

Uang yang semula berfungsi sebagai alat penukar beralih fungsi memperalat manusia . Celakanya lagi manusia tidak menyadarinya! Dari bangun tidur sampai waktu tidur kembali yang dipikirkan hanya uang dan uang.  Bagaimana caranya mendapatkannya lebih banyak lagi? Segala cara ditempuh demi mendapatkannya. Setelah didapatkan, uang digunakan sekehendak hati.

Firman Tuhan di dalam  1 Ti 6:10  mengatakan : “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka..”

Jadi bagaimana kita seharusnya  menempatkan uang dalam kehidupan kita? :

–          Jangan menjadi hamba uang  sebaliknya kitalah yang menjadi tuannya. Jangan mencintainya karena kita tidak akan pernah puas dengan uang (Pkh.5:9). Sebaliknya cukupkanlah dengan apa yang ada pada kita (Ibrani 13:5).

–          Kita harus menatalayani uang dengan bijak termasuk dengan penggunaannya ( Ams.17:16) dan cara memperolehnya (1 Tim.6:10), Kita harus setia dan jujur dalam hal keuangan. Di dalam Lukas 16:10-11, dikatakan “..barang siapa yang setia dalam perkara kecil akan dipercayakan perkara besar…..Jadi jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan  mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?.” Kalau kita perhatikan ayat ini maka perkara kecil yang dimaksudkan disini adalah  uang (mamon), sedangkan perkara besarnya/ harta sesungguhnya  adalah perkara rohani/pelayanan rohani. Jadi jika kita tidak setia dalam hal keuangan, tidak mungkin kita bisa setia dalam melayani Tuhan!

–          Karena akar dari segala kejahatan adalah cinta uang. Maka kita harus menguasai/mengendalikannya, jika tidak maka uang akan membawa kita menjauhi Tuhan sebab uang menawarkan materi dan kesenangan duniawi dan membuat kita hanya memiliki sedikit waktu untuk Tuhan karena hidup kita hanya memikirkan bagaimana mendapatkannya. Kita sudah terpikat olehnya.

Apakah kita sudah menempatkan uang sudah sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan? Mari kita belajar menempatkan uang pada porsinya dan menatalayani uang dengan bijak. (EYH)

Comments on this entry are closed.

Previous Post:

Next Post: